http://www.youtube.com/watch?v=B47KQ6RNJtg
Di tengah carut – marutnya situasi politik dan ekonomi Indonesia, yang banyak menimbulkan gerutu dan sumpah serapah, saya cukup bahagia melihat sajian PENEBAR INSPIRASI yang menghadirkan Jusuf Kalla, Jokowi, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo dan Abraham Samad sebagai bintang tamu pada acara Mata Najwa di sebuah stasiun televisi.
Acara yang dikemas begitu santai, penuh gelak dan tawa namun tetap inspiratif dan membawa kesegaran, membuat saya melupakan kesuntukan dan kekecewaan pada bangsa ini.
Optimisme saya kembali bangkit, ketika begitu banyak harapan dan semangat yang dilontarkan dari kelima sosok yang digadang-gadang ini.
Saya tergugah dengan pernyataan Jokowi di akhir acara yang mengajak kita semua untuk terus mengekspose kebaikan, agar kebaikan itu menular kepada semua manusia. Sudah saatnya, kita menyetop energi buruk yang terus dipancarkan dan didengungkan media massa dan media sosial.
Masih banyak harapan bisa kita wujudkan yaitu dengan
1. Ketulusan yang telah diteladankan Jokowi.
2. Kesederhanaan dan kejujuran, menghindari sikap tamak, gaya hidup hedonis dan pragmatis yang diharapkan oleh Abraham Samad.
3. Keberanian yang dicontohkan oleh Ganjar Pranowo yang mengajak kita terlibat, jangan cuma jadi penonton, yang sibuk menggerutu. Karena, jika kita sudah terlibat, kita akan berani mengambil resiko.
4. Kecintaan yang disertai keteladan terhadap produk dan budaya bangsa yang sudah menjadi nafas bagi seorang Jusuf Kalla.
5. Rendah hati dan tangguh seperti yang diungkapkan Anies Bawesdan yang mengajak kita agar tidak mudah terbang karena pujian,tidak tumbang karena cacian
Kiranya kelima hal yang saya rangkum dari pernyataan lima tokoh tersebut bisa kita sebarkan sebagai virus kebaikan.
Mari kita wujudkan beautiful and hopeful Indonesia.
Semarang, 9 Januari 2014
Kamis, 16 Januari 2014
Beautiful and Hopeful Indonesia
Label: Abraham Samad, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Indonesia, Indonesia Baru, Jokowi, Jusuf Kalla, OpiniWawancara Imajiner Saya Dengan Sopyan Hadi – Teknisi KRL Serpong – Bintaro 11 Desember 2013
Diposting oleh
Benedicta Moedjiani Nurmeitasari
di
16.06
0
komentar
Saya : Selamat siang mas.
SH : Selamat siang mbak.
Saya : Bagaimana kabarnya ?
SH : Baik-baik saja.
Saya : Mas Sopyan, saya tidak ingin menanyakan kronologi peristiwa
tersebutkarena media sudah banyak menceritakannya. Saya
hanya punya satu pertanyaan : Mengapa Mas Sopyan tidak
segera menyelamatkan diri, padahal anda punya banyak kesempatan
untuk itu?
SH : Begini mbak. Dari kecil saya bercita-cita menjadi masinis.Saya
Sangat kagum dengan profesi masinis. Tapi kebetulan saya
tidak punya kesempatan menjadi seorang masinis. Rupanya Tuhan
menakdirkan saya menjadi teknisi di KRL supaya saya bisa
menyelamatkan banyak orang.
Sebetulnya saya juga kecewa ketika pertama kali saya mendaftar di
PT. KAI dan tidak diterima. Bahkan saya sempat 3 x tes. Saya marah,
jengkel dan putus asa. Akhirnya saya mendaftar bekerja di
perusahaan lain. Tapi, ternyata Tuhan memberi kesempatan
saya untuk bekerja di PT. KAI bukan sebagai masinis tapi
sebagai teknisi.
Saya menyadari panggilan saya setelah jiwa saya terpisah dari raga
saya. Saya senangpada detik-detik terakhir sebelum tabrakan
saya bisa memberitahu para penumpang untuk bersiap
menyelamatkan diri. Saya tidak tahu apa jadinya kalau saya
mengambil keputusan menyelamatkan diri saya sendiri.
Saya : Boleh tahu apa yang ada di pikiran mas Sopyan di saat-satterakhir ?
SH : Saat itu dari jauh saya sudah melihat truk yang nyelonong walaupun
sirine sudah berbunyi. Memang palang pintubelum turun. Saat itu
sepertibiasa di daerah itu macet. Saya lihat truk tanki bensin yang
nyelonong itu sepertinya mogok. Saya langsung berpikir, saya harus
segera memberitahu penumpang akan kemungkinan terjadinya
tabrakan dahsyat. Yang terbayang di benak saja, sekian kilo liter
bensin terbakar akan menimbulkan banyak korban bukan cuma
penumpang tapi jugamasyarakat disekitar kejadian. Akhirnya
saya memutuskan membuka kabin penumpangdan memberitahu
mereka bahwa sebentar lagi kereta akan bertabrakan. Saya tutup
kembali pintu kabin dan Blaaaarrrrr ! Setelah itu saya tidak ingat
apa-apa dan ternyata saya sudah beralih dunia.
Saya : Mungkin mas Sopyan ada pesan untuk keluarga, korban atau
pembaca ?
SH : Ya, saya mau berterimakasih pada keluarga, sahabat dan kerabat
yang selalu mendukung saya. Saya sudah berada di tempat yang
bahagia. Saya juga turut berbela sungkawa pada keluarga korban
yang kehilangan orang-orang yang dicintainya. Juga mereka yang
masih dirawat di RS. Semoga segera pulih. Dan saya juga berpesan
pada semua pengendara yang hendak melintas di jalur kereta api,
berhati-hatilah, jangan tergesa-gesa. Tindakan anda menimbulkan
kerugian yang amat dasyat. Bukan cuma kerugianmaterial, kesedihan,
tapi juga ada banyak mimpi dan masa depan yang terpaksa anda
hancurkan dengan kecerobohan dan ketergesa-gesaan.
Semoga Tuhan mengampuni kita semua.
Saya : Terimakasih Mas Sopyan atas waktunya. Selamat beristirahat dalam
damai.
“Sejatinya kita semua adalah pahlawan. Sekecil apa pun peran seorang manusia, ia terlahir untuk menjadi pahlawan. Dan Sopyan Hadi telah memilih menjadi seorang pahlawan yang mengorbankan dirinya untuk keselamatan orang banyak."
Rest in peace Sopyan Hadi, akan kami simpan air mata ini dan menggantinya dengan senyum kebanggaan.
Semarang 11 Desember 2013
(Data dirangkum dari berbagai sumber)
Malaikat Kecilku
Diposting oleh
Benedicta Moedjiani Nurmeitasari
di
16.03
0
komentar
Minggu sore kali ini sungguh berbeda dari biasanya. Hari ini, 9 Desember 2013 Vento berulang tahun yang ke-11. Sekaligus adalah hari pertama ia menghadapi Ulangan Umum Semester-1. Juga pertamakalinya, ia menghadapi UUS tanpa pendampinganku.
Sejak menikmati roller coaster kehidupan yang luar biasa ini, keluarga kecil kami terpisah-pisah. Suamiku bekerja di Jakarta, 1 putraku kuliah di Jogja, 1 putriku kuliah di Malang, 1 orang putriku tinggal bersamaku menempati sebuah rumah keluarga di kota atas-Semarang, dan Vento putra bungsuku tinggal bersama omnya di daerah Semarang Timur, karena ia tidak mau pindah sekolah.
Di awal aku mendapatkan tiket untuk menaiki roller coaster itu, aku hanya bisa menyimpan air mata kepedihan, ketakutan yang kadang aku seka agar tak seorangpun melihatnya. Aku telah bertekad untuk menikmati tantangan ini, berayun, menangis melawan takut dan kadang tertawa geli menikmati derasnya ayunan itu. Yah, tapi kemarin malam, perasaan itu menjadi suatu ramuan rasa yang entah apa namanya tak dapat kutemukan definisinya.
Biasanya Sabtu sore, Vento melewati akhir pekan bersamaku di rumah atas. Ia kembali ke rumah omnya hari Minggu Sore. Tapi sore ini, ia terlihat malas sekali. Ayahnya telpon berkali-kali mengingatkan bahwa ia harus pulang pukul 4 sore, agar bisa mempersiapkan UUS dengan baik. Aku pun juga sudah memberi pengertian padanya,
“Dek kan besok UUS, pulang jam 4 ya.” Vento hanya terdiam dan mengangguk.
***
Hari itu aku cukup lelah, pulang gereja, dilanjutkan pertemuan Lektor hingga pukul 12 lebih, selanjutnya aku mendampinginya belajar. Setelah itu kami makan siang bersama di sebuah Resto. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aku mengatakan pada Vento agar belajarnya dilanjutkan, sebentar ibu istirahat.
Pukul 4 sore aku bangun. Aku berseru menyuruh Vento bersiap mandi. Keluar dari kamar kulihat ia tertidur dibangku depan kamar. Kudekati dan kupijat kakinya. Kulihat matanya terkatup tetapi berkerijap, menunjukkan bahwa ia pura-pura tidur. Kuhela nafas, aku tahu bahwa ia tak mau pulang. Akhirnya kubiarkan ia tertidur sungguhan.
Pukul 5 sore, aku membangunkannya sekali lagi. Kali ini dia bangun. Aku tak tega, akhirnya aku menawarkan :
“Adek mau pulang besok aja?” Matanya berkejap bahagia, dan ia mengatakan
“Kalau ibu boleh aku mau aja. Tapi apa ibu gak repot harus ngantar aku dulu sebelum ke kantor."
“Ya,gak masalah kalau sekali-sekali.”
“Ya udah to, sebentar aku SMS om, kasih tau aku gak pulang ya bu.”
Sepertinya ia tak menyia-nyiakan kesempatan.
Aku menelpon suamiku mengabarkan hal ini. Suamiku sepertinya keberatan karena aku harus bangun pagi-pagi dan naik sepeda motor sendiri. Padahal jarak rumah, sekolah Vento dan kantorku jauh. Plus macet dan banjir di musim hujan seperti sekarang. Biasanya aku numpang mobil kantor tanpa perlu susah payah. Tapi aku memberikan pengertian, bahwa Vento ingin belajar didampingi ibunya. Akhirnya suamiku mengerti.
***
Jam belajar sudah usai. Kami akan pergi tidur. Aku menelpon suamiku, mengajaknya berdoa bersama. Sungguh suasana menjadi haru, ketika giliran Vento berdoa :
“Tuhan aku bahagia mempunyai keluarga yang membanggakan. Meski kami berjauhan kami bisa berdoa bersama saat ini. Besok usiaku bertambah 1 tahun. Berilah aku kesehatan. Besok aku menempuh UUS. Berkatilah aku supaya aku dapat mengerjakan dengan baik. Aku juga mau berdoa untuk ayah yang berada di Jakarta, semoga ayah selalu sehat, Kauberikan rejeki agar dapat menafkahi kami sekeluarga. Berkati juga ibu yang sementara ini harus menjadi kepala keluarga. Berilah ibu kesehatan dan ketabahan. Berkati juga kakak yang mempersiapkan skripsinya. Semoga semuanya berjalan lancar dan kakak segera mendapatkan pekerjaan sehingga dapat membantu ekonomi keluarga. Juga berkati mbak Dita, supaya kuliahnya lancar. Berkati juga mbak Antya yang masih UAS.”
Aku tercekat mendengar untaian doa Vento. Ah anak ini….. begitu halus hatinya. Ia mengerti kepedihan hati kami. Ia mampu menerjemahkannya serta mengubah jeritan ini menjadi lambungan doa yang begitu indah.
Selamat ulang tahun anakku….malaikat kecilku. Terimakasih selalu menjadi kebanggaan, tawa dan penghiburan bagi kami.Teruslah menjadi berkat dan terbekati anakku sayang….
Doa ayah, ibu dan kakak-kakakmu yang selalu membanggakanmu
Semarang 09 Des 2013
HUT ke 11 Malaikat kecilku
Zena Pio Meidi Advento (Penghiburan Meita dan Trisadhi yang lahir di masa Adven)
Selasa, 31 Desember 2013
Baltyra - Tanda Damai dan Persaudaraam
Label: Baltyra, Global City Nusantara, PErsaudaraan, Tanda DamaiTak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2013. Begitu banyak prestasi diraih oleh para kontributor yang membuat siapapun yang berada di rumah ini ikut bangga. Juga beraneka peristiwa dan pengalaman tersaji setiap harinya, begitu renyah dan kemriuk untuk dinikmati.
Para penghuni yang berasal dari berbagai latar belakang serasa saling memiliki ketika berbagi di rumah tak berdinding ini. Para kontributor tak segan membagikan ilmu serta pengalaman dan apa pun yang mereka miliki untuk sekedar menjalin kebersamaan dan persaudaraan bahkan kekeluargaan.
Hal ini mengingatkan saya pada homili seorang pastor di misa Malam Natal yang baru lalu. Dalam khotbahnya Pastor mengatakan bahwa Natal harus menjadi tanda damai, persaudaraan dan sarana pewartaan kebaikan Tuhan pada umat manusia. Ketika mendengar itu angan saya langsung melayang pada saudara-saudara di Baltyra.
Ya! Baltyra adalah tanda damai serta persaudaraan itu. Ini terbukti dari dinamika Group Baltyra, baik yang negatif dan lebih banyak yang positif. Tentu hal tersebut sesuai dengan ciri Baltyra yang:
Kosmopolitisme di mana berbagai identitas dan sentimen sebagai warga negara dunia berbaur, tanpa berbenturan satu dengan lainnya.
Berwawasan Nusantara, yang artinya bahwa warga Baltyra lahir dari beragam ide dan latar belakang dari berbagai penjuru dunia. Namun, justru banyaknya elemen yang berbeda tersebut menjadi kekuatan untuk memajukan dunia.
Tak salah kiranya, jika saya mengatakan Baltyra memang bukan rumah kedua saya, tetapi Baltyra adalah rumah persinggahan saya. Saya bebas singgah, saya bebas beristirahat, melepas penat, sekedar bercanda, tertawa, bahkan meneteskan airmata haru membaca pengalaman-pengalaman hidup yang tersaji di rumah singgah ini.
Terimakasih Baltyra, telah memperkaya hidup saya.
Akhirnya, selamat Tahun Baru. Semoga di tahun yang baru kita semua semakin menjadi manusia-manusia tangguh yang tak mudah patah, tak mudah tercerai berai. Semoga anda semua selalu sehat, sejahtera dan bahagia, dikarunia rahmat untuk menghadapi setiap tantangan dengan senyum ceria…..
Semarang – penghujung tahun 2013
Read more: http://baltyra.com/2013/12/31/baltyra-tanda-damai-dan-persaudaraan-selamat-tahun-baru-2014/#ixzz2p2Uzd800
Perjuangan Anak Bangsa Mengenyam Pendidikan
Diposting oleh
Benedicta Moedjiani Nurmeitasari
di
15.21
0
komentar
Kali ini saya ingin berbagi kisah tentang calon penerima Beasiswa Anak-anak Terang. Di artikel sebelumnya saya sudah bercerita tentang apa itu Beasiswa (bagi) Anak-Anak Terang.
Banyak kisah-kisah pilu yang mungkin kita tidak tahu. Perjuangan seorang anak untuk memperbaiki masa depan keluarganya menjadi cermin bagi kita, betapa kita seringkali kurang bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Untuk itu melalui cuplikan kisah ini saya mengajak anda untuk berbagi. Kita wujudkan pernyataan Frans Seda:
“Tidak boleh terjadi seseorang tidak melanjutkan pendidikan karena ia miskin”
Dan akhirnya, mari kita wujudkan Indonesia yang makin cerdas. Selamat membaca! Jangan lupa siapkan tissue…..dan juga kunjungi : http://www.anakanakterang.web.id
***
Seorang remaja lelaki, masuk kelas tempat aku mewanwancarai para calon penerima beasiswa. Wajahnya terlihat pucat pasi, kuyu dan lemas. Kulihat peluh bercucuran di wajahnya. Kusapa dia dan kupersilahkan duduk. Ia tertunduk.
“Selamat pagi Mas, namamu Boy ya (nama disamarkan) ?” Boy mendongakkan wajahnya dan tersenyum
“Selamat pagi Bu. Iya itu nama saya.” Jawabnya lirih. Kulihat wajahnya yang memutih.
“Kamu kenapa Boy? Sakit?”
Boy terdiam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian dia tertunduk lagi. Aku mulai curiga dengan keadaannya, kemudian kupegang tangannya. Dingin sekali! Keringat mulai membasahi pelipisnya. Membuatnya terlihat makin tak berdaya menahan sesuatu.
“Sudah biasa bu. Setiap pagi juga begini.”
“Lho kok setiap pagi ? Memangnya kamu sakit”
“Tidak bu.”
Aku makin penasaran dibuatnya. Kubuka biodata Boy. Membacanya dengan cermat sambil sesekali kuamati wajahnya.Tiba-tiba ….
BRUKKKKKKKKKKKKKK! !!
Boy pingsan.
***
Saat Boy pingsan aku mencari informasi tentang dia kepada gurunya. Dan ternyata, Boy adalah anak ke 3 dari 6 bersaudara yang tinggal di sebuah desa di Karangjati – Ungaran, Kabupaten Semarang. Ia bersekolah di Sekolah Menengah Kimia Industri. Boy berjalan kaki dari rumah menuju jalan raya kira-kira 3 km. Setelah itu, ia mencari tumpangan truk yang menuju ke arah Semarang. Hanya itulah satu-satunya alternatif yang dipilihnya agar dia tidak terlambat, juga agar dia tidak seperti kedua kakaknya yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Hingga kemiskinan terus saja membelenggu mereka.
Kira-kira satu jam kemudian remaja lelaki itu kembali masuk ke ruangan, duduk di hadapanku dan berkata,
“Maaf bu, tadi tiba-tiba kepala saya terasa berputar.”
“Kamu sudah sarapan?” Boy menggelengkan kepalanya lemah.
“Terus, biasanya kamu sarapan dan makan siang di sekolah?” selidikku.
Dia terdiam, cukup lama. Kemudian berkata,
“Maaf Ibu, saya malu. Saya tidak pernah sarapan dan makan siang. Saya berangkat dari rumah jam 5 pagi. Jam segitu mamak belum menyiapkan sarapan. Dan kami belum pernah menikmati sarapan sejak kami kecil. Orang tua saya tidak mampu untuk memberi uang saku pada saya. Paling banyak Rp 1.000,- untuk naik bus, .kalau tidak ada truk yang bisa saya tumpangi. Kalau naik truk saya bisa gratis menuju rumah.”
Sebentar Boy terdiam. Lalu ia melanjutkan ceritanya.
“Jangankan memberi uang saku, Bu, untuk sekolah pun mamak sudah melarang saya, karena mamak tidak punya uang untuk membayar SPP.”
Aku tertegun mendengar penjelasannya. Dari bio data yang kubaca, Boy, sudah menunggak uang sekolah dari mulai dia masuk hingga saat aku wawancarai.
Lalu Boy melanjutkan ceritanya dengan suara yang lemah menahan lapar.
“Saya akan nekad ikut sekolah meskipun saya harus main petak umpet bila melihat ada yang mau nagih SPP. Saya ingin hidup mapan meski saya dari keluarga yang morat-marit, Bu.”
Sebentar, aku pura-pura izin ke kamar kecil. Aku menangis sesenggukan. Melepas sesak di dada. Betapa teguhnya nyali anak ini memperbaiki nasibnya. Ia tak ingin bodoh!
Wawancara usai. Aku dan beberapa guru mengantar Boy ke rumahnya. Rupanya rumahnya memang sangat jauh dari sekolah. Aku makin kagum dengan semangat Boy.
Ahhhh….Tak terasa airmata ini kembali menetes. Dalam hati aku bersyukur boleh meluluskan permohonan Boy menerima beasiswa Anak-Anak Terang. Dan Aku pun bergumam: Ya, nak. Wujudkan impianmu! Perbaiki nasibmu, perbaiki masa depanmu, kamu berhak untuk itu!
Seperti diceritakan oleh Elisabeth Lies Endjang Soerjawati – Bendahara Yayasan AAT Indonesia
Read more: http://baltyra.com/2013/12/25/perjuangan-anak-bangsa-mengenyam-pendidikan/#ixzz2p2STs9WP
Sacred Anger
Diposting oleh
Benedicta Moedjiani Nurmeitasari
di
15.15
0
komentar
Sejujurnya saya baru tahu istilah ini saat saya posting di FB Baltyra, sebuah surat terbuka Laire Siwi Mentari, putri Sitok Srengenge tentang dukungannnya pada sang ayah yang tengah dihujat karena pelecehan seksual terhadap beberapa wanita, salah satunya dikabarkan hamil dan tengah mengalami depresi berat.
Surat tersebut bisa di baca di http://lairesiwi.wordpress.com/2013/11/30/surat-terbuka/
Saya tak mau turut campur permasalahan keluarga Sitok Srengenge. Tapi saya kagum pada Laire yang memiliki pengendalian emosi juga keluasan hati yang luar biasa. Sungguh tak mudah mendampingi orang yang sudah dihujat public, terlebih penghujatan itu adalah pengkhianatan orang yang kita cintai terhadap diri kita.
Lalu, seorang teman menanggapi postingan saya dan mempertanyakan dimana keluarbiasaannya. Ia membandingkan dengan counter surat terbuka untuk Laire, seperti yang bisa anda baca disini : http://www.gurudanpenulis.com/8surat-terbuka-untuk-laire-siwi-laire-sayang-kamu-tahu-lsquosacred-angerrsquo-nggarsquo.html
Counter surat ini lebih mencenggangkan saya. Ungkapan dan gaya tuturnya begitu jujur dan manusiawi. Dalam surat itu Meicky, sang penulis menyebut tentang “SACRED ANGER”, suatu kemarahan yang muncul karena adanya ketidak beresan.
Istilah itu menggelitik saya untuk mencari tahu makna yang sebenarnya dari sacred anger. Cukup sulit menemukan, dan akhirnya saya dapatkan definisinya dari Ariel Ky, seorang guru bahasa Inggris yang mendefinisikan Sacred Anger sbb:
“Sacred anger wells from the deepest places in our souls that cry out against that’s really wrong in our world : discrimination,separation, division, judgment, oppression, exploitation.”
Dalam surat terbuka Meicky untuk Laire, ia meminta Laire menujukkan bahwa ia terluka atas tingkah laku ayahnya, tetapi juga akan tetap mendampingi bukan menutup-nutupi atau membela kesalahan sang ayah.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Ariel Ky:
“Still, there is a place when our anger is sacred, it is so right and it is so necessary for our very survival to express that anger, that rage, that outrage against very real injustice and living conditions and relationships that aren’t right, that don’t support or sustain us.”
Surat Meicky saya baca berkali-kali. Saya tercenung. Sebagai orang Jawa saya diajari tidak mengumbar amarah secara blak-blakan, terlebih pada orang tua. Tidak sopan! Tetapi surat Meicky membuka mata saya bahwa marah itu perlu, tapi respek itu tetap mutlak. Menyimpan kemarahan, menutupinya seolah semua baik-baik saja tidak menyelesaikan masalah. Terlebih tidak memberikan efek jera pada pelakunya.
Meicky benar. Yesus saja marah karena Bait Allah dipakai untuk berjualan. Nabi Muhammad marah kepada Ibn Al-Lutbiyyah seorang pemungut pajak yang merima suap. Dan yang sekarang sedang menjadi primadona : Jokowi-Ahok marah melihat keridak beresan di jajaran pemerintahannya.
Marah yang proporsional itu sehat, menurut Ariel Ky.
“Sacred anger is a healthy expression of our deepest discontent. Sacred anger moves mountains, it moves women out of marriages that have become untenable, it moves people out on the streets to overthrow dictators.“
Ah, ternyata marah juga punya daya konstruktif jika diungkapkan dengan cara yang tepat.
Hmmmm….I know now anger can be beautiful.
Semarang 06 Desember 2013
Mempertanyakan pada diri sendiri keuntungan menyimpan rapat kemarahan-kemarahan di hati
Read more: http://baltyra.com/2013/12/10/sacred-anger/#ixzz2p2QluGZR
Langganan:
Postingan (Atom)

