Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Halaman

Tampilkan postingan dengan label Informasi Beasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi Beasiswa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Agustus 2014

[Perjuangan Anak Bangsa Mengenyam Pendidikan] Impian yang Tertunda

Kamis, 28 Agustus 2014
0 komentar
Seorang laki-laki muda duduk di hadapanku. Tatapan matanya yang sipit namun tajam memancarkan kecerdasannya. Wajahnya yang tirus dan bibirnya yang tersenyum tipis menandakan sosok ini seorang yang lebih banyak berpikir dan bekerja daripada bicara. Lengannya kurus tapi kuat. Ya, aku tahu dia adalah seorang pekerja keras.

Kutatap wajahnya dalam-dalam, sambil sesekali menelusuri coretan tentang diri dan keluarganya. Mulai dari ayah yang pergi meninggalkannya, lalu ibu yang menikah lagi dengan seorang laki-laki yang tak bertanggung jawab. Dari pernikahan itu ia memiliki 2 adik tiri yang cerdas. Bahkan salah satunya pemenang suatu olimpiade mata pelajaran eksak.

Sayang sekali, kepahitan demi kepahitan belum beranjak dari hidupnya. Ayah tiri yang hanya pulang dan meninggalkan hutang dan kadang sumpah serapah, hingga akhirnya ia dan keluarganya harus keluar dari rumah yang dipinjami kerabat.

Dengan pendapatan yang tak menentu, sebagai seorang buruh sebuah pabrik es krim, sang ibu mendapat upah +/-Rp.600.000/bulan, itupun jika tak berhalangan, mereka harus mencukupkan untuk makan 4 orang anggota keluarga, pendidikannya, juga ke-2 adiknya, transport dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Mustahil! Ya pasti, maka sebagai anak laki-laki tertua, ia tak berpangku tangan. Ia membantu sang ibu dengan berjualan hasil tanaman yang ditanam di lahan kosong seorang kerabat. Hasil kebun tersebut ia jual ke pasar.

Sesekali aku menghela nafas, mendengar cerita dan ketegarannya. Yah, seharusnya memang demikian. Laki-lakiharus kuat. Sepahit apa pun hidup, ia diharamkan menangis. Walau sesungguhnya aku tak setuju dengan hal ini.

Sudah beberapa hari belakangan, aku mewawancarai calon penerima beasiswa Perguruan Tinggi – Anak-Anak Terang. Banyak kisah nyata yang tak kupercayai benar terjadi tapi dikisahkan secara langsung oleh pelakunya di hadapanku. Ya! DI HADAPANKU!

Hal ini membuatku cukup pusing karena, begitu banyak yang harus dibantu, sedangkan kemampuan dari komunitas kami yang baru saja menjadi sebuah yayasan ini, belum sanggup membiayai begitu banyak mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikannya. Memperbaiki nasibnya. Kami harus benar-benar selektif.

Wawancara hampir usai, sampai aku berhenti pada kalimat akhir dari esai yang dibuatnya.

“Sebenarnya, aku bercita-cita menjadi seorang dokter. Aku ingin membangun sebuah rumah sakit gratis bagi mereka yang tidak mampu. Tetapi apa daya. Mungkin belum rejekiku. Aku jalani saja takdirku, walau saat ini bersekolah di Sekolah Tinggi Ilmu Komputer di Purwokerto dengan IP ku saat ini 3,83. Tapi Keinginanku untuk menjadi seorang dokter tak akan pernah mati. Entah dengan bekerja terlebih dahulu lalu kuliah lagi, atau berharap, suatu hari ada donatur yang bersedia membiayaiku, dan aku akan mengembalikan biaya itu kelak ketika aku sudah berhasil mewujudkan impian itu. Semoga Tuhan mendengar doaku.”

Aku tertarik mengetahui lebih jauh tentang hal ini. Lalu aku bertanya padanya :

“Jadi,cita-citamu dokter ?”

Sebentar ia menatapku, matanya mulai berkaca-kaca. Hal ini kontras sekali dengan ketegarannya ketika bercerita tentang kepahitan hidup dan keluarganya. Dengan suara yang bergetar dan sesekali serak kacau ia berkata :

“Iya ibu. Saya ingin sekali menjadi dokter. Bahkan saya tetap mencoba ikut tes di PTN, dan kemarin diterima. Tapi …”

Suaranya tercekat. Aku terpana melihat perubahan sikapnya dari seorang yang tegar menjadi begitu rapuh.

“Apa yang membuatmu ingin menjadi dokter,” selidikku.

“Saya ingat, ketika ibu sakit dan kami tidak punya uang untuk berobat,” tuturnya dengan suara parau sambil tertunduk.

“Dan saya, melihat, begitu banyak orang miskin yang ingin berobat, tapi sering ditolak rumah sakit karena biaya,” lanjutnya lirih.

“Apakah kamu masih ingin menjadi seorang dokter,” tanyaku.

“Sangat, bu” jawabnya. “Mungkin saya harus jalani di bidang ini dulu, tapi saya tak kan berhenti mewujudkan impian saya.”

Kutarik nafas dalam-dalam dan membuang muka, sambil menahan airmata yang nyaris jatuh.

“Baiklah, tetaplah bermimpi dan wujudkan impianmu. Terus berharap dan berusaha, dan alam akan membantumu mewujudkan impian itu. Ibu berdoa untukmu.” Aku mengakhiri wawancara siang itu.

Ah….

Ternyata bagi seorang anak, gagalnya sebuah impian lebih buruk dari kepahitan hidup



Semarang,7 Agustus 2014





Read more: http://baltyra.com/2014/08/08/perjuangan-anak-bangsa-mengenyam-pendidikan-impian-yang-tertunda/#ixzz3Bf1Db4Kh

Read more: http://baltyra.com/2014/08/08/perjuangan-anak-bangsa-mengenyam-pendidikan-impian-yang-tertunda/#ixzz3Bf0Z2uLs

read more

Kamis, 16 Januari 2014

Perjuangan Anak Bangsa Mengenyam Pendidikan - Gadis Bunga Kamboja

Kamis, 16 Januari 2014
0 komentar
Sahabat Baltyra, satu kisah tentang Perjuangan Anak Bangsa Mengenyam Pendidikan telah saya sajikan. Saya mengundang anda semua menyisihkan Rp.50.000 – Rp.100.000/bulan bagi 1 orang anak asuh, jika anda memiliki rejeki lebih. Seperti cerita salah satu kontributor kita, pak Tjipta Effendi dalam sebuah kisahnya yang dimuat di Kompasiana tentang Roti yang tak pernah busuk, saya pun yakin secuil roti yang anda bagikan ini tak akan pernah busuk bagi penerimanya. Selamat menikmati kisahnya, jangan lupa siapkan tisu, dan mampirlah di www.anakanakterang.web.id *** 8 Desember 2013, adalah hari terakhir survey sekolah dan wawancara calon anak asuh Yayasan Anak-anak Terang (AAT) Indonesia untuk sekolah-sekolah wilayah karesidenan Madiun. Sekolah yang mendapatkan giliran terakhir untuk disurvey adalah SMPK Garuda Parang, Magetan. Banyak sekali cerita yang membuat saya senang, sedih, terharu, kagum bahkan terheran-heran. Kebetulan hari itu, saya mendapatkan giliran untuk mewawancarai seorang siswi kelas VIII. Gadis ini begitu hebat dan mampu membuat saya makin bersyukur atas hidup ini. Namanya Ayu (nama asli disamarkan). Garis-garis kecantikan terukir di wajahnya. Rambutnya panjang diikat rapi. Bulu matanya lentik dan bibirnya tipis. Warna kulitnya eksotis. Dalam wawancara awal, saya meminta Ayu untuk bercerita tentang keluarganya, dan dengan tersendat-sendat Ayu mengawali kisahnya. “Saya 5 bersaudara. Kakak saya nomer satu dan dua sudah kerja mbak, dan…” Ayu menghentikan ceritanya dengan suara serak dan mata berkaca-kaca. Aku terdiam memberinya kesempatan untuk melanjutkan cerita. “Kakak saya nomor tiga meninggal satu tahun lalu, padahal dia adalah kakak yang paling saya sayangi. Dia yang paling mengerti saya.” Air mata Ayu tak terbendung. Aku hanya bisa menatapnya iba dan mengulurkan tissue untuk menghapus airmatanya. Setelah agak tenang, ia menerawang ke langit-langit dan melanjutkan ceritanya dengan suara yang tercekat. “Kakak saya meninggal terlindas truk Mbak” Deg! Jantung saya serasa berhenti berdetak, sesak! “Semenjak ditinggal kakak saya, kehidupan saya berubah. Selama ini yang membiayai sekolah saya adalah kakak saya yang nomor tiga. Kakak-kakak saya yang lain kurang peduli pada saya.” Ayu menangis kembali. Saya sendiri sibuk menahan air mata tak ingin menunjukkan kesedihan. “Sabar ya Dek. Jangan merasa hancur. Kehidupanmu masih panjang. Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan, masih banyak yang harus kamu perjuangkan. Kepergian kakakmu pasti ada hikmahnya untuk kamu. Dan Tuhan tahu kamu adalah perempuan yang kuat. Kamu pasti bisa menghadapi semua ini.” “Iya Mbak, saya akan terus berjuang demi cita-cita saya dan demi cita-cita kakak saya.” “Memangnya apa cita-cita kakak kamu.?” “Kakak saya ingin saya sekolah sampai SMA, Mbak. Karena itu dulu kakak saya berjuang mati-matian demi membiayai sekolah saya. Dan setelah kakak saya meninggal, saya ingin sekali mewujudkan cita-citanya. Tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya agar saya bisa melanjutkan sekolah saya.” “Bagaimana dengan Bapakmu? Beliau masih bisa membiayai kamu, kan?” “Bapak saya hanya petani kecil, Mbak. Sawahnya cuma satu petak dan hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.” “Bagaimana dengan ibu kamu?” “Ibu tidak bekerja, ia di rumah mengurus adik saya.” “Berarti hanya bapakmu yang mencari nafkah, Dek?” “Tidak Mbak. Saya juga ikut membantu bapak mencari nafkah.” “Lho, kamu kerja? Kerja apa?” tanyaku penasaran. “Setiap pulang sekolah, saya mengumpulkan bunga Kamboja yang ada di kuburan.” “Buat apa dek bunga Kambojanya?” “Buat dijual Mbak. Biasanya saya sampai maghrib mengumpulkan bunga Kamboja. Sepulang dari mencari bunga Kamboja, saya mencari rumput untuk makan kambing nenek saya. Biasanya saya bawa senter.” Saya tercekat dan langsung terdiam. Saya tidak bisa lagi berkata apa-apa. Sungguh, Ayu membuat saya kagum. Di usia yang masih terbilang remaja, ia harus mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Saya kira kisah seperti ini hanya ada dalam sinetron atau dalam acara televisi saja. Namun ternyata saya mendengar sendiri kisah itu. “Kamu tidak takut,dek di kuburan malam-malam? Nanti kalau kamu bertemu setan gimana? Kalau ada yang loncat-loncat gimana? Tanyaku sambil bergurau. “Tidak Mbak. Demi cita-cita kakak saya, saya akan terus berjuang dan tidak akan menyerah.” Sampai di situ, saya pikir bisa sedikit menghiburnya dengan guyonan saya. Ternyata dia tetap berbicara dengan serius sambil sesekali mengusap air matanya. “Biasanya sehari dapat seberapa bunga Kambojanya, Dek? harganya berapa?” Saya mulai melanjutkan pertanyaan saya. “Sehari dapat satu kresek kecil Mbak. Kalau sedang musim berbunga seperti ini biasanya saya dapat lebih banyak. Sampai rumah bunga-bunga itu saya jemur dan saya kumpulkan sampai satu kilogram. Setelah itu saya jual dengan harga lima puluh ribu.” “Wah, banyak dong lima puluh ribu. Berapa hari sekali bisa dapat lima puluh ribu Dek?” “Sebulan sekali Mbak. Itu pun kalau sudah terkumpul satu kilogram.” “Haaaaaa.. Sebulan?” seruku keheranan. “Iya Mbak, dan uangnya saya berikan pada ibu untuk belanja sehari-hari.” “Mengapa tidak kamu pakai untuk uang jajan kamu saja Dek?” “Tidak Mbak. Kasihan ibu. Ibu tidak bekerja dan bapak juga hanya bisa memberi uang sedikit.” “Terus bagaimana dengan uang jajanmu Dek?” “Saya jarang beli jajan Mbak. Kalaupun ingin jajan, saya akan mengambil sedikit uang dari hasil menjual bunga Kamboja. Kadang lima ratus kadang seribu.” “Uang lima ratus memang cukup untuk beli jajan Dek?” “Cukup Mbak. Untuk beli permen yang akan saya bagi dengan adik saya.” “Baik sekali hatimu Dek. Mbak bangga sama kamu. Jangan pernah putus asa ya. Tuhan tidak akan membuat apa yang kamu perjuangkan menjadi sia-sia.” “Iya Mbak.” Cerita demi cerita saya dengarkan sendiri darinya. Bagaimana perjuangannya berjalan kaki kiloan meter setiap hari karena tidak punya kendaraan yang bisa dipakai. Juga perjuangannya mengumpulkan bunga Kamboja setiap hari yang hasilnya tidak seberapa. Kepedihan dan perjuangannya menghadapi kerasnya hidup, menahan kesedihan atas kepergian kakak yang sangat ia sayangi dan kekasaran bapaknya karena himpitan ekonomi. Saya sangat kagum padanya. Dia yang begitu polos, ikhlas membantu sang Ayah mencari nafkah. Padahal dia sering mendapat perlakuan kasar. Tetapi menurutnya, semua perlakuan kasar yang diterimanya adalah untuk kebaikan dirinya juga. Sejahat apapun bapaknya, ia tetap menyayangi kedua orang tuanya. Kebaikan hatinya yang begitu tulus itu telah membuka hati saya untuk lebih peduli lagi dan bersyukur atas kehidupan ini. Dalam hati saya berkata : Kamu pasti bahagia kelak, Ayu. Kamu layak mendapatkan kebahagiaan itu. Mungkin saat ini hidupmu tak seindah kilauan permata. Namun kebaikan hatimu, melebihi harumnya bunga Kamboja. Tetap semangat. Tuhan tidak akan membiarkanmu terus merana. Karena kuncup bunga akan mekar dan mewangi pada waktunya.. Diceritakan oleh Farhana Rike Kotikhah (Relawan AAT Madiun) Read more: http://baltyra.com/2014/01/09/perjuangan-anak-bangsa-mengenyam-pendidikan-gadis-bunga-kamboja/#ixzz2qYD2W0n9

read more

Selasa, 31 Desember 2013

Perjuangan Anak Bangsa Mengenyam Pendidikan

Selasa, 31 Desember 2013
0 komentar
Kali ini saya ingin berbagi kisah tentang calon penerima Beasiswa Anak-anak Terang. Di artikel sebelumnya saya sudah bercerita tentang apa itu Beasiswa (bagi) Anak-Anak Terang. Banyak kisah-kisah pilu yang mungkin kita tidak tahu. Perjuangan seorang anak untuk memperbaiki masa depan keluarganya menjadi cermin bagi kita, betapa kita seringkali kurang bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Untuk itu melalui cuplikan kisah ini saya mengajak anda untuk berbagi. Kita wujudkan pernyataan Frans Seda: “Tidak boleh terjadi seseorang tidak melanjutkan pendidikan karena ia miskin” Dan akhirnya, mari kita wujudkan Indonesia yang makin cerdas. Selamat membaca! Jangan lupa siapkan tissue…..dan juga kunjungi : http://www.anakanakterang.web.id *** Seorang remaja lelaki, masuk kelas tempat aku mewanwancarai para calon penerima beasiswa. Wajahnya terlihat pucat pasi, kuyu dan lemas. Kulihat peluh bercucuran di wajahnya. Kusapa dia dan kupersilahkan duduk. Ia tertunduk. “Selamat pagi Mas, namamu Boy ya (nama disamarkan) ?” Boy mendongakkan wajahnya dan tersenyum “Selamat pagi Bu. Iya itu nama saya.” Jawabnya lirih. Kulihat wajahnya yang memutih. “Kamu kenapa Boy? Sakit?” Boy terdiam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian dia tertunduk lagi. Aku mulai curiga dengan keadaannya, kemudian kupegang tangannya. Dingin sekali! Keringat mulai membasahi pelipisnya. Membuatnya terlihat makin tak berdaya menahan sesuatu. “Sudah biasa bu. Setiap pagi juga begini.” “Lho kok setiap pagi ? Memangnya kamu sakit” “Tidak bu.” Aku makin penasaran dibuatnya. Kubuka biodata Boy. Membacanya dengan cermat sambil sesekali kuamati wajahnya.Tiba-tiba …. BRUKKKKKKKKKKKKKK! !! Boy pingsan. *** Saat Boy pingsan aku mencari informasi tentang dia kepada gurunya. Dan ternyata, Boy adalah anak ke 3 dari 6 bersaudara yang tinggal di sebuah desa di Karangjati – Ungaran, Kabupaten Semarang. Ia bersekolah di Sekolah Menengah Kimia Industri. Boy berjalan kaki dari rumah menuju jalan raya kira-kira 3 km. Setelah itu, ia mencari tumpangan truk yang menuju ke arah Semarang. Hanya itulah satu-satunya alternatif yang dipilihnya agar dia tidak terlambat, juga agar dia tidak seperti kedua kakaknya yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Hingga kemiskinan terus saja membelenggu mereka. Kira-kira satu jam kemudian remaja lelaki itu kembali masuk ke ruangan, duduk di hadapanku dan berkata, “Maaf bu, tadi tiba-tiba kepala saya terasa berputar.” “Kamu sudah sarapan?” Boy menggelengkan kepalanya lemah. “Terus, biasanya kamu sarapan dan makan siang di sekolah?” selidikku. Dia terdiam, cukup lama. Kemudian berkata, “Maaf Ibu, saya malu. Saya tidak pernah sarapan dan makan siang. Saya berangkat dari rumah jam 5 pagi. Jam segitu mamak belum menyiapkan sarapan. Dan kami belum pernah menikmati sarapan sejak kami kecil. Orang tua saya tidak mampu untuk memberi uang saku pada saya. Paling banyak Rp 1.000,- untuk naik bus, .kalau tidak ada truk yang bisa saya tumpangi. Kalau naik truk saya bisa gratis menuju rumah.” Sebentar Boy terdiam. Lalu ia melanjutkan ceritanya. “Jangankan memberi uang saku, Bu, untuk sekolah pun mamak sudah melarang saya, karena mamak tidak punya uang untuk membayar SPP.” Aku tertegun mendengar penjelasannya. Dari bio data yang kubaca, Boy, sudah menunggak uang sekolah dari mulai dia masuk hingga saat aku wawancarai. Lalu Boy melanjutkan ceritanya dengan suara yang lemah menahan lapar. “Saya akan nekad ikut sekolah meskipun saya harus main petak umpet bila melihat ada yang mau nagih SPP. Saya ingin hidup mapan meski saya dari keluarga yang morat-marit, Bu.” Sebentar, aku pura-pura izin ke kamar kecil. Aku menangis sesenggukan. Melepas sesak di dada. Betapa teguhnya nyali anak ini memperbaiki nasibnya. Ia tak ingin bodoh! Wawancara usai. Aku dan beberapa guru mengantar Boy ke rumahnya. Rupanya rumahnya memang sangat jauh dari sekolah. Aku makin kagum dengan semangat Boy. Ahhhh….Tak terasa airmata ini kembali menetes. Dalam hati aku bersyukur boleh meluluskan permohonan Boy menerima beasiswa Anak-Anak Terang. Dan Aku pun bergumam: Ya, nak. Wujudkan impianmu! Perbaiki nasibmu, perbaiki masa depanmu, kamu berhak untuk itu! Seperti diceritakan oleh Elisabeth Lies Endjang Soerjawati – Bendahara Yayasan AAT Indonesia Read more: http://baltyra.com/2013/12/25/perjuangan-anak-bangsa-mengenyam-pendidikan/#ixzz2p2STs9WP

read more

Kamis, 24 Oktober 2013

(Beasiswa bagi) Anak-anak Terang

Kamis, 24 Oktober 2013
0 komentar

read more