Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Halaman

Tampilkan postingan dengan label Berkat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berkat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juli 2015

Menghitung Berkat – Mencipta Bahagia

Jumat, 03 Juli 2015
0 komentar
Dalam surga kecilku : keluarga, kami punya tiga hari berturut-turut yang slalu dirayakan penuh kesederhanaan dan sukacita. Urutan hari yang cukup unik : tanggal lahir, pernikahan dan kelahiran anak kedua kami.

Lahir – menikah – punya anak kedua. Mungkin nantinya akan diakhiri dengan tanggal kematianku : tanggal 7 Mei. Who knows ? Hahahahaha.


Setelah menikmati roller coaster kehidupan beberapa tahun lalu, aku ingin merayakan hari special ini bersama suamiku secara istimewa. Tetapi sayang sekali, rencana yang telah kubuat jauh hari, tak seindah yang dibayangkan. Ada saja hal yang membuat kacau dan sedih. Rasanya kecewa, marah, tak berdaya campur aduk jadi satu.



Diam-diam aku menangis. Tengah malam saat semua sudah tertidur, aku mengeluh pada Tuhan, menumpahkan segala kekesalan dan ketidak-berdayaanku. Tiba-tiba seperti ada suara hati kecilku, yang kuyakini itu suara Tuhan berkata,
„Sudahlah, itu adalah bagianku, jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja, dan kamu akan menerima kebahagiaan yang lebih.“

Aku mengakhiri percakapanku dengan ucapan syukur atas kebaikan dan penghiburanNya.



Lalu aku teringat ucapan seorang sahabat. Hitunglah berkatmu tiap-tiap hari, dan kamu akan melupakan kesedihanmu.

Benar saja, aku mulai menghitung berkatku beberapa hari itu. Mulai dari hujan doa dari para sahabat yang memberi ucapan selamat, dan kebersamaan bersama suami yang cukup panjang, yang membawaku pada masa remaja dan ketenangan saat berada disisinya, hingga dukungan banyak teman untuk rencanaku membuat GARAGE SALE (menjelang lebaran nanti, yang dananya akan diserahkan untuk membantu biaya kuliah anak asuh perguruan tinggi), membuatku sangat senang.

Aku serasa hidup dan berarti. Aku sadar bahwa ternyata kebahagiaan hidup adalah saat diri ini berarti untuk orang lain. Meski aku bukan miliarder, bahkan mobil untuk mengambil barang-barang yang sudah disiapkan teman-teman untuk rencana tersebut aku tak punya, tapi aku punya banyak kawan yang siap membantu.



Padahal, acara tersebut adalah ide dadakan. Ide tersebut lahir dari keinginan untuk berswadaya dan swakarsa, mencari dana untuk biaya kuliah para anak asuh perguruan tinggi yang masih kurang banyak. Tetapi, atensi, dukungan dan sambutan teman-teman sungguh luar biasa, membuatku semangat.

Secara khusus pada kesempatan ini, aku ingin mengucapkan terimakasih untuk semua keluarga dan sahabat, atas doa, dukungan dan perhatian untukku dan keluargaku. Terimakasih juga untuk teman-teman yang belum terlalu kukenal, tapi berkenan mendoakan di hari ulang tahunku.

Pernah kutulis, bahwa bagi sebagian orang yang menggunakan FB, tanggal lahir disembunyikan karena alasan tertentu. Tapi, bagiku, itu adalah hari yang kunanti, karena saat itu begitu banyak doa tercurah. Dan aku yakin, Tuhan mendengarkan dan mencatat doa teman-teman untukku.

Dan akhirnya, tak henti-hentinya aku berterimakasih pada Sahabatku : Yesus, yang selalu ada dalam tangis dan ceriaku.

Yang terakhir, selamat ulang tahun Skolastika Meitrisya Aprodite, Dewi Cintaku yang berilmu, cermin hidup yang tangguh, tekad yang kuat dan berjiwa pelayanan yang tinggi. Terberkatilah kamu anakku sayang, untuk slalu menjadi berkat bagi orang lain.



Semarang, 06 Mei 2015
Day 3 of our family Triduum .

read more

Sabtu, 02 Juni 2012

Rejeki (Walau Salah Alamat) Nomplok

Sabtu, 02 Juni 2012
0 komentar
Each new day is miracle in progress. Demikianlah sebuah pepatah yang selalu kuingat saat Bapak harus bertarung melawan kanker. Diajarnya aku untuk selalu bersyukur dengan cara mencari 1 saja kebaikan Allah di sepanjang hari itu, dan di penghujung hari sebelum mata ini mengajak tubuh beristirahat, untuk akhirnya mengucapkan terimakasih atas segala kebaikanNya.

Kiranya pepatah tersebut pas sekali untuk renungan kali ini.

Sebuah kisah sederhana dari seorang office girl di tempatku bekerja, sungguh membuatku tak mampu berkata-kata dan hanya mampu bersyukur serta berucap : Sungguh besar Allahku, melebihi segala perkara dan persoalan yang tak dapat aku tanggung.

Mbak Yati, adalah nama office girl di tempatku bekerja. Orangnya ramah, ceria dan lucu. Suaminya bekerja di kantor yang sama sebagai buruh. Ia dikarunia 3 orang anak laki – laki yang semuanya masih bersekolah. Hari – hari belakangan ini kisah hidupnya dipenuhi dengan cerita pilu. Dari ibunya yang sakit keras, dan harus dirawat di rumah sakit, hingga akhirnya meninggal dan menyisakan setumpuk hutang sampai ia harus menjual rumahnya dan mengontrak. Sehari – hari untuk menambah penghasilannya Mbak Yati juga berjualan jajanan untuk orang – orang kantor.

Suatu hari, ia pingsan. Mungkin karena kelelahan dan beban pikiran hutang, kebutuhan hidup sehari – hari dan sekolah anak – anaknya. Sampai yang seharusnya ia rawat inap, tetapi karena bingung dengan biaya, ia menolak untuk dirawat. Kegigihannya berdamai dengan segala kesusahan serta mengabaikan rasa sakit sungguh membuatku kagum.

Selang satu minggu setelah sakit, ternyata kesusahan belum juga mau berbaik hati dengannya. Sore itu seorang anaknya ingin jajan bakso, entah apa sebabnya ia justru membuat kesalahan yang membuat gerobak tukang bakso tersebut rusak, dan akhirnya Mbak Yati harus mengganti rugi. Ada – ada saja kejadian yang menimpanya. Namun tetap saja Mbak Yati mampu menceritakan kesedihannya dengan tawa yang juga disertai air mata.

2 hari yang lalu, seperti biasa sebelum masuk ke ruang kerja ,aku mampir ke dapurnya untuk membeli makanan kecil jualannya. Kulihat tangan Mbak Yati bengkak. Saat kutanya, ia bercerita bahwa semalam, setelah sholat, ia merasa pusing dan terjatuh. Jarinya terplintir. Duhhhh Mbak Yati…

Siang tadi saat makan siang, Mbak Yati bercerita,

“Bu Meita, wah bener lho bu. Alloh itu baik. Kemarin, pulang kantor, jualan nasiku kan masih tiga bungkus. Bayangkan bu. Lha kok aku di jalan ketemu orang bawa gerobak sampah. Dibelakangnya anaknya merengek,
“Pak ngelih (Lapar). Maem Pak.”
“Aku kan gak tega ya bu, aku kasih saja nasi bungkus tadi ke Bapak itu. Padahal aku juga gak punya lauk di rumah. Dan keuntunganku hari itu cuma lima belas ribu. Pikirku nanti nasi itu mau aku makan. Tapi lihat anak tadi aku kasihan. Lihat mereka seneng aku jadi seneng banget bu.“

“Di jalan, aku berhenti sebentar bu, rasanya tanganku masih sakit. Mau naik becak mahal padahal badan ini rasanya sudah enggak kuat. Eh lah kok malah ketemu tetangga, nawarin tumpangan. Adhuh maturnuwun Gusti.”

“ Terus to Bu Meita, sampai di rumah anakku minta bakso. Tadi uangku yang lima belas ribu aku kasih empat ribu buat beli bakso. Tinggal sebelas ribu. Aku mau masak lha kok gas ku habis. Wah aku bingung bu, makan apa malam ini.”

“Tiba-tiba saja kok ada orang ketuk rumah, mengantar makanan. Lalu aku tanya dari siapa. Kata orang yang mengantar itu, dari Pak Mursid. Aku bingung bu, wong aku ndak kenal. Tapi orang yang mengirim makanan itu memaksa menerima bancakan itu. Ya sudah dalam hati aku bersyukur, dan bilang : Ini rejeki. Waktu aku buka bu, isinya woalah kayak memberi Lurah, saja. Lengkap dan banyak banget bu. Ada pisang sesisir, ada jajanan, ada ayam utuh. Wah luar biasa.”

“Setelah orangnya pulang, aku kejar anakku yang sedang menunggu bakso. Nang … Nang, ora usah tumbas bakso. (Nang= panggilan untuk anak laki-laki., gak usah beli bakso). Itu ada kiriman makanan banyak. Uangnya buat beli gas saja ya. Dengan terpaksa anakku pulang sambil cemberut. Tapi setelah lihat isi dus, dia semangat. Terus bilang, wah ibu dapat darimana kok makanannya enak-enak.”

“Terus, tadi pagi, aku belanja di tetangga rt sebelah. Ternyata namanya Mbak Yati. Dia seorang mandor pabrik. Selama ini aku panggilnya nama suaminya. Dia bercerita, bahwa kemarin nunggu – nunggu bancakan dari temannya. Lha aku kan jadi deg-degan. Aku nunggu sepi, terus aku bilang, bu kemarin saya terima bancakan. Lha saya tidak tahu ibu namanya sama dengan saya. Sebetulnya saya juga sudah tidak mau terima, tapi yang mengirim memaksa bu. Ya sudah saya terima. Maaf ya bu.”

“Bu Meita, untung, orangnya enggak marah. Malah bilang, nggak apa – apa Mbak Yati, itu rejekinya Mbak Yati. “

“Wah legaaaaaaaaaaaaaa sekali, Bu Meita. Tuhan sudah mengatur rejeki buat saya walau rejeki salah alamat.”

…………………………………………………………………………………………

Sedikit pun aku tak mampu berkata- kata mendengar cerita Mbak Yati. Bulu kudukku sampai meremang, mataku pun berkaca-kaca. Aku hanya mampu berucap dalam hati, Ya Tuhan, Engkau mampu membelokkan rejeki buat orang yang sudah mau berbagi dalam kekurangannya. Sungguh ajaib Tuhanku……..







Semarang, akhir Mei 2012...
Bulan penuh rahmat untuk belajar

read more

Rabu, 24 Agustus 2011

Tuhan Membuatku Merasa Kaya Raya

Rabu, 24 Agustus 2011
0 komentar
Miris aku memandang bu Asih (sebut saja namanya begitu), yang perutnya semakin lama semakin membesar. Aku takut sekali melihat dia berjalan tergopoh – gopoh seperti seorang pemain drumband tanpa stick.

Aku paling sedih jika melihat orang sakit, tapi tak bisa berobat karena kendala biaya. Rasanya aku ingin menjadi kaya raya, hingga bisa membantu orang – orang yang sakit itu. Tapi untunglah, walau aku belum kaya, tapi Bapaku yang di surga itu kaya raya. Ia punya banyak tangan. Dan Ia cuma membisikiku untuk pergi ke rumah Bu Asih, masalah yang lain nanti Aku yang bereskan, begitu Ia bicara padaku.

Hingga suatu sore aku tak tahan untuk mendatangi Bu Asih dan bertanya apakah gerangan sakitnya. Dengan tersendat menahan tangis Bu Asih bercerita,
“Bu Meita, saya sudah dua tahun menderita kista,” serak suaranya terdengar di telingaku.
“Lha kenapa tidak segera dibawa ke dokter, bu?” tanyaku ingin tahu.
“Emmm, tidaklah nanti merepotkan keluarga. Biar saja biaya untuk berobat ini untuk keperluan anak-anak bu,” sahutnya menahan tangis yang hampir tumpah.

Memang kehidupan Bu Asih ini menurutku pas-pasan walau tidak juga dikatakan miskin. Keluarga mereka hanya bersandar pada kepala keluarga yang sudah pensiun. Dengan tiga putri yang menginjak remaja, tentu biaya pendidikan sangat berat. Untung saja, di lingkungan kami mempunyai program Beasiswa. Dan Keluarga Bu Asih cukup terbantu dengan program bantuan beasiswa di lingkungan kami ini.

 “Bu Asih, apakah ibu mencintai anak-anak ibu?”, tanyaku gemas.
“Ya tentu saja to, bu Meita. Tapi keadaan kami seperti ini. Saya harus bagaimana?” ujar Bu Asih bingung.
“Kalau ibu menyayangi mereka, ibu harus ke dokter ya. Besok saya antar. Sudah tak usah pikirkan dulu masalah biaya. Lagi pula kita bisa pakai kartu kesehatan suami ibu,” kataku.

Aku tahu suami bu Asih adalah seorang pensiunan pegawai negeri. Jadi untuk masalah kesehatan tentu saja Negara ikut menanggung sebagian. Sungguh tak habis ku mengerti mengapa bu Asih membiarkan kista diperutnya membesar hingga terlihat seperti seorang perempuan yang hamil sembilan bulan. Yang tak kumengerti lagi mengapa keluarganya pun juga diam saja, tak mencoba berinisiatif mengambil suatu tindakan menyelamatkan Bu Asih.

Akhirnya aku memutuskan akan mengantar Bu Asih besok. Masalah biaya pikirkan nanti. Sebetulnya sih aku juga tak ada duit  lebih untuk pengeluaran ini. Tapi manalah mungkin Tuhan diam saja tidak membantuku. Aku Cuma bergumam dalam hati,

“Tuhan, Kau yang bawa langkah kaki ku ke rumah ini. Engkau juga yang akan menyediakan biayanya. Aku tak tahu lho ya. Aku pasrah.” Setelah bicara sebentar padaNya hatiku makin mantap untuk membawa Bu Asih ke dokter.

Keesokan paginya, jam sembilan pagi aku ke rumah Bu Asih. Dia sudah bersiap menungguku. Kami berdua menuju ke Puskemas dulu untuk mendapat rujukan, sebelum akhirnya ke rumah sakit. Semua administrasi beres. Kami menuju ke rumah sakit di bawah terik matahari yang tak ramah. Sesampai di rumah sakit kami masuk ke ruang dokter spesialis kandungan.  Dokter yang menangani sempat kaget dan ngeri melihat perut bu Asih ini. Sang dokter berkata,
”Ini harus segera diambil bu, kalau ibu tak mau terjadi hal yang lebih buruk.” Bu Asih menghela nafas panjang.

Lalu si dokter berkata lagi, “Ini saya siapkan surat untuk mondok, cek lab, dan operasi ya, bu. Terserah ibu mau masuk kapan.” Kami berlalu dari ruang periksa setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih.

Dalam perjalanan pulang, aku memberi semangat Bu Asih. “Bu, nanti sesampai di rumah, ibu segera berunding dengan suami ibu. Lalu sediakan semua persyaratan administrasinya. Masalah biaya, banyak jalan menuju Roma. Tak perlu khawatir. Yang penting ibu punya tekat untuk sembuh,” ujarku.
Bu Asih, terlihat bahagia. Wajahnya berbinar. Walaupun ada sedikit kecemasan, mungkin ia memikirkan masalah biaya itu.

Aku membiarkan Bu Asih berunding dengan keluarganya. Aku menunggu kabar dari dia. Sehari, dua hari tak ada kabar. Hari ketiga, aku sudah tak sabar lagi. Aku angkat telpon, dan menghubungi bu Asih menanyakan bagaimana rencana selanjutnya. Tapi justru yang kudengar adalah suara sesengukan.
“Bu Meita, suami saya tidak setuju. Saya disuruh berobat alternatif saja,” deras kalimat itu keluar dari mulutnya seolah melepas kejengkelan yang berkecamuk di dadanya.

Hatiku perih mendengar penjelasannya. Lalu aku berkata, “Bu, pengobatan alternative itu membutuhkan waktu yang lama. Kalau penyakit ibu itu yang dibutuhkan bukan obat, tetapi tindakan pengambilan. Dan harus segera. Tidak bisa ditunda lagi. Sekarang ibu begini saja, ibu berunding dengan keluarga pihak ibu. Dan minta dukungan. Saya akan bantu dengan menghubungi teman – teman untuk, mengumpulkan biaya. Tapi yang penting ibu bergerak dulu. Lagipula, sebagian besar biaya ibu sudah ditanggung pemerintah. ”

Bu asih menghubungi pihak keluarganya. Aku tak menghubungi Bu Asih sampai beberapa hari. Sampai suatu hari telpon di rumahku berdering. Krrrrrrrrrrrrrrriingggggggggggggggg!
“Selamat pagi,” sapaku.
“Selamat pagi, bu Meita,” terdengar suara diseberang telpon. “Saya Ratri bu, mau memberi kabar, ibu akan operasi besok pagi.” Hatiku senang sekali mendengar kabar dari Ratri, putri Bu Asih. Lalu kataku,
“Ya, Ratri, saya senang sekali, semoga semuanya besok berjalan lancar. Saya akan datang ya,” ujarku.
“Baik, Bu Meita, sampai besok,” kata Ratri menutup pembicaraan.

Keesokan paginya, aku datang ke rumah sakit untuk memberi dukungan Bu Asih, menghadapi operasi. Walau cemas, Bu Asih terlihat bahagia. Dia berkali – kali mengucapkan terimakasih padaku. Ah… padahal aku tak berbuat apa-apa, hanya mengantar dan sedikit provokasi ha ha ha…... Aku jadi malu sendiri, karena Bu Asih menganggap aku seperti dewa penolong saja. Aku mengajak keluarganya berdoa bersama sebelum Bu Asih dibawa ke ruang operasi.

Operasi berjalan lancar. Daging yang tumbuh di perutnya sudah diangkat. Kalau tidak salah ingat beratnya hampir mencapai 3 kilogram. Dan besarnya melebihi bola basket. Ho ho ho…….Ngeri bukan???
Aku menjenguk Bu Asih setelah ia kembali ke rumah. Senangnya melihat ia berusaha berjalan ke luar dari kamarnya tanpa membawa drum nya itu. Terimakasih Tuhan. Janjimu indah sekali. Aku yakin Tuhan mencukupkan biayanya. Karena Bu Asih tidak mengeluh padaku masalah biaya.

Sekarang Bu Asih sudah bisa bekerja. Ia membantu suaminya . Tuhanku memang ajaib. Aku memang tidak kaya. Tapi aku boleh ikut ambil bagian dalam  kesembuhan Bu Asih. Kini ia bisa produktif. Setiap kali aku membeli sesuatu di warungnya, selalu ia bilang, “Saya sekarang bisa bekerja karena bu Meita.”

 Sebenarnya aku malu kalau ia bilang begitu. Karena aku sungguh hanya mengeluarkan sedikit uang dan tenaga, juga saran yang provokatif saja.  Tapi yang penting Tuhan sudah membuatku merasa kaya raya…… Ha ha ha......Pelajaran yang bisa kuambil adalah, jika kita mau berbuat sedikit saja, Tuhan pasti akan membantu kita. Ia pasti akan melengkapinya.........Terimakasih Tuhan buat kemurahanMu pada kami semua.

read more

Minggu, 14 Agustus 2011

Derai Pucuk Bakau "Harapan"

Minggu, 14 Agustus 2011
0 komentar
Dingin subuh menggamitku
Sementara gemerisik dedaunan yang menari
Tak sabar, mengajakku berdansa

Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…
Ragaku masih enggan bangkit dari pembaringan ini
Terbalut rindu yang merapuh dalam kelam

Hari baru ini terasa patah, luluh lantak
Tapi…
Suara hati memanggilku
Untuk bergegas mendaraskan mantra suci

Karena…
Ada secercah tatap bisu dari sepasang mata yang lugu serta bibir yang kaku
Menanti sebuah penghiburan yang memberikan harapan
Harapan yang bergetar dalam kesunyian….

Gontai kulangkahkan kaki ini ke balik ruang altar
Duduk terpekur sebelum mengorbankan diriku, juga Dia buat mereka
Ahhhhhhhhhhhhhh….
Lelah sekali batin ini terasa

Denting organ dan paduan suara surga menggugahku
Gairahku bangkit
Mendengar nyayian pujian yang keluar dari bibir – bibir kelu

Gumam dan racau tak menentu,
Juga raga – raga renta terlentang tak berdaya
Melenguh menjerit dalam tatap bisu dan air mata pilu
Lengking serenade pagi ini pun seperti ratap saluang...

Ah, Tuhan….
Tak Kau dengarkah ratapan itu
Tidak kah gemertak derita yang melantak meluluhkan hatiMu?

Tapi kutahu Tuhan….
Walau Kau membisu diatas sana
Kesempurnaan sujud bakti raga tak sempurna
Yang pasrah dalam cacat sepanjang hayat
Serta keteguhan iman mereka yang tak bercela
Menjadi kurban yang menyenangkan hatiMu

Dan kan Kau catat itu sebagai kunci untuk masuk SurgaMu, bahagia…..
Hmmmmm.... yah kuyakin itu..



Sebuah desahan seorang imam
yang bertugas mempersempahkan misa setiap pagi
disebuah PAnti Jompo di Binongko Flores

read more

Sabtu, 13 Agustus 2011

Ibu, Aku bahagia

Sabtu, 13 Agustus 2011
2 komentar

Sejenak kutatap wajah murung itu, sebelum aku menyapa murid-muridku. Entah mengapa wajah itu mengusik hati. A si wajah sayu adalah murid yang nilainya dibawah rata-rata untuk mata pelajaran yang aku ampu. Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan nilainya, tapi wajah sayunya itu membuatku gelisah dan penasaran.

Sampai suatu saat, aku memanggilnya saat jam istirahat. Aku ingin berbicara dari hati ke hati dengannya. Tapi saat aku bertanya, ia hanya menatap ku dan menggeleng pilu, aku melihat air mata yang menggantung di bola matanya. Aku tahu ada banyak hal yang tak mampu disampaikannya dengan rangkaian kata-kata.

Akhirnya aku mengetahui persoalan keluarganya dari rekan guru. Rekanku bercerita bahwa ibu si A ini berselingkuh dengan pamannya (aku juga baru tahu kalau ayahnya menderita cacat di kaki dan bekerja di Jakarta). Pernah suatu kali temannya bercerita padaku : bu Meita, si A itu seringkali ingin bunuh diri. Ia merasa hidupnya sia-sia. Tenggorokanku tercekat, hatiku tersentak mulutku terkunci tak tahu harus apa mendengar laporan teman A ini.

Malamnya aku merenungkan peristiwa itu dan merasakan remuknya hati seorang anak kecil yang tak tahu harus berbuat apa. Aku juga tak dapat memahami sebesar apa beban berat A sehingga ia berkeinginan mengakhiri keceriaan masa kanak-kanaknya.

Lalu, aku mulai menuliskan surat untuknya.

A anakku, tahukah kamu bahwa Tuhan sangat mencintaimu. Engkau sangat berharga dimataNya. Ibu tahu kesedihan dan bebanmu. Tapi maukah kamu melupakan kesedihanmu. Banyak hal yang bisa kau lakukan. Buatlah dirimu berguna paling tidak bagi dirimu sendiri dan keluargamu. Percayalah selalu ada yang mendoakanmu dan ingin melihatmu kelak sukses dan bahagia yaitu saya. Percayalah Dia akan menopang hidupmu……Dia akan memberimu, yang terbaik dan semuanya akan indah pada waktuNya.

Keesokan paginya kuserahkan surat itu dan memintanya membaca dirumah. Hari berikutnya aku merasa lega karena A datang dengan wajah yang berbinar. Aku bisa kembali melihat canda tawanya.

Sejak itu A meraih kemajuan yang luar biasa untuk pelajaranku. Aku tak menyangka bahwa selembar kertas mampu merubahnya sedemikian rupa. Aku bersyukur boleh ambil bagian dalam perubahan hidupnya. Aku sangat bangga karena suatu ketika adiknya datang padaku dan berkata,
" Bu Meita ulangan Inggrisku bagus nilainya, kakak senang sekali mengajari aku pelajaran bahasa Inggris."

Oh Tuhan…. Bukan main bangganya aku. Ternyata A memperhatikan nasehatku agar ia berguna paling tidak untuk dirinya sendiri dan keluarganya.

Saat kelulusan A datang padaku untuk mengucapkan terimakasih dan mengatakan bahwa ia tak akan melupakanku. Sesekali aku memantau perkembangan A. Entahlah sepertinya terjalin rasa untuk melindungi dia. Tapi aku tahu bahwa ibunya tidak suka padaku. A mengatakan padaku, 
"Bu jangan telepon kerumah, ke HP saja."

Sejak saat itu aku tidak lagi menghubungi dia. Sampai suatu saat dia meneleponku dan mengirim sms padaku. Sekali lagi ia mengatakan dan menulis bahwa ia tak akan pernah melupakan aku. Itulah terakhir kali ia menghubungi aku. Sepertinya sejak itu ia pindah ke Jakarta mengikutinya ayahnya. Aku tahu bahwa keluarganya ada masalah lagi yang cukup rumit sehingga A dan adik-adiknya harus mengikuti ayahnya. Tapi biarlah itu menjadi proses hidup A si guru kehidupanku.

Aku menulis catatan ini untuk mengenang A, merenungkan betapa hebatnya ia. Walau saat itu tergolong anak-anak, ia mampu menyimpan kepedihan hatinya, keburukan ibunya, beban keluarganya. Ia hanya menyimpan semuanya itu di matanya bahkan air mata pun tak sempat menetes dari matanya yang bening.

Jika suatu saat A membaca catatan ini, ketahuilah nak, ada orang yang masih dan selalu mendoakanmu . Ia menantimu datang, tersenyum dan berkata, Ibu aku bahagia…………..

Semarang, 14 April 2010


read more